Takhlukan Dirimu.

Hallo penabuluers..

Mau berbagi cerita aja sih, pengalaman saya 3 minggu yang lalu, sekaligus mau coba untuk mengartikan kesempatan saya ini *bahasanyaaaaa*. 3 minggu lalu waktu jumat udah libur, menjadi minggu yang paling saya nantikan bersama teman2 SMA saya, karena kami punya rencana untuk mencoba kembali melihat ciptaan Tuhan yang lainnya, kali ini ke Tamam Nasional Gunung Gede Pangrango. Iyaa.. saya bersama teman-teman saya (sok-sokan) jadi pendaki gunung. Ahahaha.

Read More

6 bulan belajar di penabulu.

6 bulan sudah di Penabulu, baru sebentar yaa? Yaaa… sebenarnya ngga sebentar juga si, tapi blm bisa dibilang lama menurut saya, tapiiiiii…. ilmu yang saya dapat selama 6 bulan ini cukup membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, *weeess* hihii. Pertama kali saya masuk jujur saya masih bingung apa yang harus saya kerjakan, sayapun diajak untuk mengikuti pelatihan TFCA mengenai 10 langkah Konservasi di Rumah Kemuning selama seminggu. Pelatihan ini membuat saya sebagai lulusan kehutanan antusias karena selama dibangu kuliah, saya belum mendapatkan ilmu ini, *duh..aduh kemana aja wi*. Read More

Perjalanan 45 Menit

Sudah sering rasanya mendengar penuhnya kereta Jakarta-Bogor saat jam pulang kerja, yaah.. itu adalah sebuah alur perjalanan yang saya rasakan hampir setiap harinya, rasa lelah yang awalnya begitu terasa menyebalkan kini menjadi sebuah hal yang dirindukan ketika sehari saja saya tidak mengalaminya. Setiap harinya selalu ada cerita dalam sebuah perjalanan 45 menit itu, perjalanan dari Pasar Minggu-Bogor, singkat namun selalu membuat saya tersenyum.

Seperti hari selasa kemarin, entah kenapa hari selasa ini stasiun pasar minggu begitu ramai, hiruk pikuk diluar stasiun pasar minggu jauh lebih ramai dari biasanya, banyak sekali keributan kecil antara pejalan kaki dan pengendara motor yang sama-sama tidak mau mengalah. Saya yang berada diantara keributan kecil itu lebih memilih untuk tidak mengikuti cara mereka, tapi lebih memilih untuk berjalan ketika pengendara memang memberikan jalan untuk pejalan kaki menyebrang. Read More

cerita cilebut

Hari senin saya mendapatkan tugas dari om farhan untuk coba mendatangi kembali kantor desa cilebut barat. Untuk melihat dokumen keuangan dari desa tersebut. Buat apa coba? iya, karena saya dan mbak maya sedang membuat panduan untuk aplikasi desa yaitu siap dan simpul, untuk membuat panduan ini kami berdua perlu mengerti bagaimana alur hulu hingga hilir keuangan desa. Nanya ke om farhan, om farhan juga kurang paham, sehingga kami berdua diminta belajar dari dokumen-dokumen keuangan desa itu sendiri dan mendatangi kantor desa.

Rabu pukul 10.00 saya berangkat dari rumah menuju kantor desa cilebut barat. Begitu sampai di kantor desa cilebut barat keramaian sangat tampak jelas dari halaman parkiran kantor desa tersebut. Saya pun lantas menaiki tangga kantor desa, karena memang posisi kantor desa tersebut ada dilantai 2. Saya langsung masuk menuju ruangan Pak Komay, begitu masuk ternyata ruangan pak Komay sedang sangat ramai orang, pak komay melihat saya, dan memberikan isyarat untuk saya masuk. Read More

Belajar dari Distribusi Paket

Senin dan selasa menjadi hari yang cukup membuat saya dan mbak maya jadi perempuan tangguh *cailah*. iya.. bungkusin paket poster UU Desa lebih dari 100 box. (tangguh dari mananya wi? biasa aja ah). hehehe… iya sih terlihat biasa, tapi buat kami itu luar biasa, soalnya jadi belajar distribusi paket yang cukup membuat saya dan mbak maya ngga sadar waktu.ehehe.

awal cerita, mbak maya dapet mandat langsung dari om eko, untuk distribusi poster UU Desa ke tiga daerah, yaitu Yogyakarta, Situbondo dan Berau, saya diminta untuk bantu mbak maya. Tapi.. kondisi saya sebelumnya masih belum stabil, akhirnya mbak maya mengerjakannya sendiri. ngga enak banget rasanya kepikiran mbak maya ngeboxin segitu banyak poster, yaaa… dibantuin sama ryan dan juki sih.

singkat cerita sayapun datang ke rumah paminda sudah ada mbak maya, mas bayu dan mbak phia. saya juga melihat ada kurang lebih 10 paket besar sudah berjejer rapih, saya bertanya ke mbak maya “mbak.. paket2 ini yang mau dikirim ?”, mbak maya pun menjawab sambil tersenyum “iyaaa… banyak kan ya wi?” saya hanya menjawab dengan anggukkan kepala karena takjub. Read More

Cuma Cerita (1)

“Ooo.. begitu, baik pak, kalau begitu hari senin pagi, kami akan kembali untuk bisa bertemu dengan pak lurahnya ya pak, terimakasih maaf ya pak sudah mengganggu pekerjaanya”. Kalimat yang akhirnya saya lontarkan kepada salah satu pegawai kantor desa cilebut barat yang selalu tersenyum dan ramah. Mungkin ada yang bertanya “Ngapain wi di kantor desa cilebut?” oke jadi begini ceritanya *berdehem* hehe.

Kamis sore saya diamanahkan om sugeng untuk pergi kekantor desa cilebut barat dalam rangka mengenalkan aplikasi desa yang sedang kami kerjakan. Saya diminta untuk bertanya sama intan yang sebelumnya sudah pernah ke kantor desa cilebut untuk mencari percontohan desa yang baik, saya harus tau siapa PIC di desa cilebut tersebut, sebelumnya saya memang sudah ngobrol sama intan mengenai desa cilebut barat ini, dan intan bilang PIC disana yaa pak lurah nya sendiri. Malamnya saya membuat beberapa pertanyaaan yang kira-kira akan saya tanyakan dan saya diskusikan, menyiapkan data-data yang sudah intan dapatkan sebelumnya dari desa cilebut itu dan sudah di input dalam aplikasi desa oleh mas farhan untuk saya perlihatkan kepada pak lurahnya. Read More

a time

jam Malam di tanggal 13 Januari 2015, pukul 00.33.
Aku masih terjaga, masih tenggelam dalam pikiran dan khayalan-khayalanku yang semakin menggila, waktu terus berjalan tanpa bisa aku hentikan, terus berjalan dengan tanpa memberi peringatan pada siapapun atau apapun.
Berbicara waktu,,, maka berbicara banyak hal yang tidak bisa ditunda, karena kita bisa menunda, tapi waktu tidak akan pernah mau menunda. Kita akan menyesal tanpa waktu memperdulikan, karena waktu hanya bisa berjalan dengan atau tanpa kesempatan-kesempatan yang ada. Read More