Takhlukan Dirimu.

Hallo penabuluers..

Mau berbagi cerita aja sih, pengalaman saya 3 minggu yang lalu, sekaligus mau coba untuk mengartikan kesempatan saya ini *bahasanyaaaaa*. 3 minggu lalu waktu jumat udah libur, menjadi minggu yang paling saya nantikan bersama teman2 SMA saya, karena kami punya rencana untuk mencoba kembali melihat ciptaan Tuhan yang lainnya, kali ini ke Tamam Nasional Gunung Gede Pangrango. Iyaa.. saya bersama teman-teman saya (sok-sokan) jadi pendaki gunung. Ahahaha.

Sebelumnya kami memang pernah mendaki, dan langsung ke gunung semeru, padahal masih sama2 awam soal pendakian. Karena kami (terutama perempuan2annya) menyesal di semeru belum sampai puncak tertinggi padahal udah setengah lagi, kami coba mengobati penyesalan itu dengan coba mendaki gunung gede, lebih dekat masih di jawa barat dan ketinggiannya masih lebih rendah dari semeru, jadi kalo kata temen2 perempuan saya “bolehlah buat pemanasan ke pendakian lainnya”.

Sabtu tepat seusai sholat subuh kami mulai mendaki dari cibodas, kami berjalan dan terus berjalan, naiki selangkah demi selangkah treking yang sudah dibuat menjadi anak tangga kecil namun berbatu, tepat jam 7 kami sampai dipemberhentian pertama pos. Kami beristirahat mulai sarapan, kami bertegur sapa dengan sesama pendaki yang ramaaai. Hari itu memang hari yang ramai karena pendakian Gunung Pangrango baru dibuka kembali, sebelumnya tidak boleh ada pendakian karena faktor cuaca.

7.30 kami kembali nyusuri anak tangga, yang… kalo diinget masih kerasa gimana rasanya, hihihi. Sering kami istirahat ketika nafas mulai terengah-engah, karena kami didominasi perempuan, dengan 4 perempuan dan 2 laki-laki, jadi yaaa, jalannya mesti sabar.. hehehe, selama perjalanan yang cukup panjang itu, ketika lelah kami melakukaan candaan-candaan kecil sekedar melupakan lelah, dan selalu mengagumi tiap sudut pendakian yang terkadang suka bingung sama hal-hal yang diluar kemampuan pemikiran kita, walaupun ngga ada yang ngga mungkin didunia ini.

Dzuhur kami sampai di peristirahatan ke 2, namanya Kandang Badak. Tempat dimana biasanya pendaki camp. untuk melanjukan perjalanan ke puncak. Sampai di Kandang Badak kami berenam, disambut dengan hujan yang luar biasa derasnya, kami sudah tidak memperdulikan baju yang kami kenakan basah, karena selama perjalanan sudah basah, kami memperdulikan baju kami yang masih kering didalam tas agar tidak basah dan segera membuat tenda. Karena ramai tempat untuk membuat tendapun sedikit terhambat, namun alhamdulillah akhirnya ada lapak walaupun bidangnya miring, (yang penting masih banyak datarnya)hihihi.

Setelah tenda terpasang, kami mulai bergantian ganti baju, karena sudah terlanjur basar dengan keringet dan air hujan, akhirnya memutuskan untuk beli makanan langsung jadi, ahahahaaha. Iya di ketinggian sekian ada yang jualan loh, bikin warung biasa, hehehe. Setelah selesai semua kamipun beristirahat karena hujan yang masih terus mengguyur kami, tidur lebih enak. Hanya tidak semua bisa tidur dengan baik, saya bersama 3 teman saya (2 laki-laki) masak yang anget-anget *padahal udah makan* sambil ngobrol dan membuat sesuatu yang hangat, semua makanan yang bisa dimasak dan di makan, kami masak dan kami makan, dingin mulai masuk ke tubuh kami tapi kami masih asik ngobrol dan tertawa, tanpa ada gedget sama sekali (iyalah sinyal aja ngga ada), bahagia rasanya, lelah, dingin, lapar yang tadi kami rasakan seketika hilang ketika kami bercanda tawa, kami juga saling berkunjung dengan tenda-tenda sebelah kami, yang akhirnya kami memiliki teman baru lainnnya.

Malam jam 21.00 kami memutuskan untuk istirahat karena kami akan memulai pendakian ke pundak jauh sebelum subuh. Jam 04.00 di hari minggu kami bangun dan kesiangan.. ahahaha, akhirnya kami memasak yang bisa kami masak, walaupun perjalanan ke puncak tidak terlalu jauh (awal katanya) tapi perut ngga boleh kosong. Setelah selesai kami memulai perjalanan kami jam 04.45, dengan iringan doa kami berangkat bersama para pendaki lainnya, dan kami luar biasa takjub dengan trek yang kami lalui, karena masih gelap sekali dan ramai kami harus mengantri, treknya terlalu beresiko kalau tidak bergantian. Kami lebih takjub lagi ketika ada trek yang harus menggunkan tambang dan sepeti memanjat karena memang kemiringannya nyaris 90 derajat, kalau kata para pendaki tanjakan ini disebutnya sebagai “Tanjakan Setan”, karena luar biasa membuat saya gemetar kaki.

Kami terus melangkah sedikit demi sedikit, didahului banyak orang tapi kami masih terus berjalan, karena ditengah perjalanan ada teman saya yang mulai tidak kuat. kami memutuskan untuk berhenti lama, dan terus menerus menyemangatinya, dengan bicara puncak sdikit lagi, (padahal waktu itu masih lumayan), karena kami juga yang kesiangan, akhirnya yaa ngga dapet sunrise deh, melihatnya ketika masih ditengah perjalanan. kami masih terus berjalan, dan jam mulai menunjukkan jam 06.30. Kami yang masih berjalan, menahan rasa sait dikaki lelah dibadan, dan sedihnya ngga dapet surise teru melangkah, begitu kami semua melihat hamparan awan seperti ada tepat didepan mata kami, kami semua seperti “spidermen” berlari walau semua sudah terlihat capek, begitu tiba di pinggiran gunung gede dengan gambaran yang luar biasa indahnya, semua rasa yang kami rasakan tadi seketika hilang.

Kami terlari dan terus menabadikan keindahan ciptaanNya yang ah, sulit sekali digambarkan, tak henti-hentinya saya mengucapkan syukur atas apa yang saya lihat ini, alam yang begitu indah, udara yang begitu sejuk, ah.. luar biasa. Saya melihat disekeliling saya, begitu banyak pendaki-pendaki yang melakukan kegiatannya masing-masing. Ada yang terus berjalan seperti saya untuk sampai di puncak, ada yang seperti teman saya memvideokan perjalanan menuju puncaknya, ada juga yang terus berfoto, dan ada juga yang saya lihat sujud syukur karena melihat keindahan ini.

Sesampainya kami di puncak Gunung Gede, Kami langsung bersyukur atas pengelihatan kami yang masih sangat baik, pendengaran kami yang msih jelas, pernafasan kami yang masih sangat senhat sehingga kami masih bisa menghirup udara yang jarang sekali kami dapatkan di perkotaan, masih segaaar. dan juga kami masih sangat bersyukur karena kami lahir di Indonesia, dengan alam yang luar biasa indah, yang masih dan harus kita jaga. Indonesia itu indah sekali tau. Indah banget. Ini masih sebagian kecil dari luasnya Indonesia, masih banyak sekali keindahan Indonesia lainnya yang harus dikunjungi. hhihihi

Nah, dari pendakian gunung gede ini, saya mengambil pelajaran, sesuatu yang dilakukan dengan baik, ikhlas dan penuh kerja keras itu akan menghasilkan sesuatu yang indah dan tidak ada tandingannya. mau sesulit apapun hal yang kita jalanin bisa dilaluin kalau kita yakin dan mau berusaha keras, karena ketika saya belajar mendaki gunung, saya mulai mengetahui bukan gunung yang harus kita takhlukkan, tapi diri kita yang harus bisa kita takhlukkan (ciyee banget yah). Tapi pelajaran ini bisa diterapkan dalam kehidupkan kita sehari-hari (harusnya sih wi) gimana caranya kita bisa menakhlukkan diri kita untuk mendapatkan tujuan kita.

Gede