Perjalanan 45 Menit

Sudah sering rasanya mendengar penuhnya kereta Jakarta-Bogor saat jam pulang kerja, yaah.. itu adalah sebuah alur perjalanan yang saya rasakan hampir setiap harinya, rasa lelah yang awalnya begitu terasa menyebalkan kini menjadi sebuah hal yang dirindukan ketika sehari saja saya tidak mengalaminya. Setiap harinya selalu ada cerita dalam sebuah perjalanan 45 menit itu, perjalanan dari Pasar Minggu-Bogor, singkat namun selalu membuat saya tersenyum.

Seperti hari selasa kemarin, entah kenapa hari selasa ini stasiun pasar minggu begitu ramai, hiruk pikuk diluar stasiun pasar minggu jauh lebih ramai dari biasanya, banyak sekali keributan kecil antara pejalan kaki dan pengendara motor yang sama-sama tidak mau mengalah. Saya yang berada diantara keributan kecil itu lebih memilih untuk tidak mengikuti cara mereka, tapi lebih memilih untuk berjalan ketika pengendara memang memberikan jalan untuk pejalan kaki menyebrang.

Tibanya di stasiun pasar minggu, “mengetap” multitrip, sayapun berjalan diantara keramaian orang-orang yang berlariaan menuju peron atau ada yang baru turun dari commuterline sehingga tubuh kami saling bertubrukkan. Hari itu saya benar-benar takjub melihat keramaian stasiun pasar minggu yang hampir 2 kali lebih ramai dari hari biasanya dijam yang sama. Yap.. terjadi penumpukkan penumpang sehingga peron untuk menunggu commuterline kearah bogor begitu padat. Saya berdiri tepat dibagian gerbong kereta khusus wanita sering berhenti, 20 menit sudah commuterline menuju bogor tak kunjung datang menyebabkan penumpukan penumpang semakin banyak.

Commuterline datang dengan kepadatan yang sudah sangat terlihat jelas didalamnya. Rasanya sulit untuk masuk, tapi karena saya berdiri tepat di pintu commuter terbuka sayapun didorong oleh para penumpang yang berdiri dibelakang saya yang nekat ingin masuk, tubuh saya terhempas masuk kedalam commuterline yang sudah luar biasa padatnya, mencoba bergerak namun masih sulit. Saya mencoba menyeimbangkan tubuh saya yang berdiri miring, belum berhasil berdiri dengan benar karena masih didesak oleh beberapa penumpang lainnya pintu commuterline tertutup kemudian berjalan, menyebabkan saling dorong penumpang karena banyak penumpang yang berdiri hanya berpasarah pada pinjakan kaki yang juga belum stabil.

Setelah commuter berjalan agak lama, tubuh sayapun sudah dapat berdiri dengan stabil begitu juga dengan penumpang lainnya, yang jumlahnya….. ah entahlah. Saya berusaha berpegangan pada pengangan tepat diatas kepala saya, sambil menahan dorongan penumpang lain yang tidak bisa berpegangan, sayapun berusaha memasangkan “headset” dikedua telinga saya dan mengamati kegiatan penumpang lain yang beragam.

Hampir semua penumpang dalam commuterline tersebut sibuk dengan masing-masing kegiatannya, ada yang asik bermain games dengan henfonnya, ada yang sibuk membalas ‘chat’ yang isinnya hanya keluhan-keluahan karena padatnya commuterline, ada yang sibuk membalaskan email kliennya, ada yang sibuk gonta-ganti playlist lagu dihenfonnya, yang tertidur dikursi bahkan tertidur sambil berdiri. Bahkan ada juga yang sibuk bolak-balik bercermin memperhatikan make-up-nya yang kalau itu saya, saya sungguh sudah masa bodoh, hihi (iyalah orang ngga bisa juga), ada lagi yang heboh “membicarakan” laki-laki kecengan dikantonya (mungkin…) dengan bebasnya sehingga satu gerbong dapat mendengar dan membuat saya tersenyum geli, karena mengingatkan saya ketika saya juga berkumpul dengan teman-teman saya (yah ketauan deh, hihi) dan yang paling gelinya lagi, ada juga yang sibuk memperhatikan penumpang-penumpang itu sampai dibuatkan tulisan seperti ini, yeah…. It’s Me!, kikikikikiki.

Tapi, menurut saya hal-hal seperti ini yang kadang, secara sadar tidak sadar membuat diri kita (saya khususnya) bercermin, ketika melihat seseorang baik itu tingkahnya baik atau buruk apakan saya juga seperti itu ?! iya tidak? Atau hanya saya saja?dan dari perjalanan yang singkat itu, ada hal yang tergambar dalam pemikiran saya adalah selelah apapun mereka, sekesal apapun mereka karena harus saling berbagi pijakkan kaki, berbagi bepangan tangan bahkan berbagi punggung bagi penumpang yang tidak dapat bisa berpegangan, mereka adalah para orang tangguh, yang harus setiap harinya mengalami hal-hal seperti ini (bahkan mungkin lebih parah). Iya.. memang sama bagi para pengendara pribadi baik itu motor atau mobil, tapi beneran deh, menggunakan jasa transportasi umum itu lebih asyik (hihi), selain kepadatan yang begitu terlihat menyiksa tapi ada sisi baik lain yang masih sangat bisa melupakan kelelehan kita dalam didalamnya.