Cuma Cerita (1)

“Ooo.. begitu, baik pak, kalau begitu hari senin pagi, kami akan kembali untuk bisa bertemu dengan pak lurahnya ya pak, terimakasih maaf ya pak sudah mengganggu pekerjaanya”. Kalimat yang akhirnya saya lontarkan kepada salah satu pegawai kantor desa cilebut barat yang selalu tersenyum dan ramah. Mungkin ada yang bertanya “Ngapain wi di kantor desa cilebut?” oke jadi begini ceritanya *berdehem* hehe.

Kamis sore saya diamanahkan om sugeng untuk pergi kekantor desa cilebut barat dalam rangka mengenalkan aplikasi desa yang sedang kami kerjakan. Saya diminta untuk bertanya sama intan yang sebelumnya sudah pernah ke kantor desa cilebut untuk mencari percontohan desa yang baik, saya harus tau siapa PIC di desa cilebut tersebut, sebelumnya saya memang sudah ngobrol sama intan mengenai desa cilebut barat ini, dan intan bilang PIC disana yaa pak lurah nya sendiri. Malamnya saya membuat beberapa pertanyaaan yang kira-kira akan saya tanyakan dan saya diskusikan, menyiapkan data-data yang sudah intan dapatkan sebelumnya dari desa cilebut itu dan sudah di input dalam aplikasi desa oleh mas farhan untuk saya perlihatkan kepada pak lurahnya.

Jumat pagi saya bangun jam 06.00, cuaca begitu mendukung untuk menarik selimut kembali, tapi saya ingat akan tugas saya, lalu saya beranjak dari tempat tidur, membereskannya dan memulai kegiatan seperti biasayanya ( ngga perlu saya ceritakan kegiatan rumahan saya? hehe), saya sudah siap dengan semua amunisi saya, jam 08.30 ketika saya membuka pintu rumah, saya terpana melihat rintikkan hujan turun yang begitu indahnya saya hanya mampu menatap nanar rintikan hujan yang semakin lama semakin deras, deras sekali, lalu saya merintih “hujan… engkau begitu menggodakku”. Saya membalikan badan lalu duduk diruang tamu sambil menatap hujan yang deras luar biasa dari pintu yang masih terbuka, lalu saya membuka leptop untuk mengerjakan beberapa kerjaan saya yang masih tertunda sambil terus berharap hujan akan segera berhenti.

Pukul 10.20 hujan mulai sedikit mereda walau masih sedikit gerimis, saya buru-buru menutup leptop dan bersiap-siap berangkat ke kantor desa cilebut, karena khawatir hujan akan turun deras lagi saya memutuskan menggunakan angkutan umum, dalam perjalanan saya yang cukup membosankan karena macet, saya menghubungi mas rado untuk menemani saya ke kantor desa cilebut. Dengan baik hati mas rado mau menemani saya, akhirnya kami janjian di stasiun cilebut karena kantor desa cilebut ini tidak jauh dari stasiun cilebut.

Saya sampai jam 11.50 di stasiun cilebut (padahal dari rumah saya ke stasiun cilebut itu sebenarnya tidak terlalu jauh, kalau menggunakan motor terus naik kereta mungkin sudah sampai pasar minggu) dan mas rado sudah menunggu, kami sampai di kantor desa cilebut hal pertama yang kami lihat dari kator desa tersebut sama seperti yang intan sampaikan, banyak sekali motor yang terparkir dihalaman kantor desa, menyimpan keheranan kami akan banyakan motor yang terparkir itu, kami mempersiapkan diri untuk melangkah masuk ruangan kantor desa, didalam ruangan tersebut kami melihat bapak yang masih cukup muda yang sudah bersiap untuk shalat jum’at karena sudah mengalungkan sajadah dan mengenakan peci, “Assalamualaikum” kata pertama yang saya ucapkan saat bapak ini melihat kami, dengan sopan bapak itu menjawab “Wa’alaikumsalam wr. wb. Waah sudah waktu jumat’an ini, ayo shalat jumat dl ya mas, mbaknya biar tunggu disini saja”. Kami hanya tersenyum dan mengangguk sembari mas rado ikut pergi shalat jum’at dengan bapak yang belum sempat saya tau namanya.

Jam 12.50 bapak ramah itu kembali kekantor desa bersama mas rado, bapak itu tersenyum lalu sayapun memulai dengan perkenalan, saya memperkenalkan diri secara pribadi dan menanyakan waktu istirahat bapak itu namun, bapak ini bilang “tidak apa-apa ada yang bisa saya bantu?”, lalu sayapun kembali memperkenalkan diri dengan membawa nama lembaga, saya juga menceritakan kalau sebelum saya dari lembaga yang sama sudah pernah ada yang datang untuk memperkenalkan PP tentang desa. Pak Is (panggilannya setelah kami berkenalan) tersenyum dan berkata “iya memang sudah pernah dulu ada yang datang, tapi waktu itu saya ajak teman mbak mas ini untuk menemui pak lurah, karena saya berpikir pak lurah yang lebih mengerti dan nantinya akan dijelaskan kembali kepada staf-stafnya” saya dengan spontan berkata “oo.. begitu pak, lalu pak lurahnya hari ini ada pak?” dan bapak itu berkata “wah.. hari ini pak lurahnya punya agenda di luar jadi tidak datang ke kantor hari senin pagi saja mbak dan mas kembali kesini lagi, lagipula sebelumnya kan memang berhubungan langsung dengan pak lurahnya, iyakan?”.

Saya dan mas rado saling tersenyum menandakan sebenarnya agak kebingungan namun, saya ingat kata-kata intan untuk menemui pak lurahnya saja, jadi saya berpikir untuk memang harus bertemu langsung dengan pak lurah. Tapi saya masih ingin mencari siapatau memang ada yang bisa saya dekati selain pak lurahnya (ciye PDKT, hehe). Saya mencoba menjelaskan kedatangan saya ke kantor desa ini dengan menceritakan aplikasi desa yang sedang saya kerjakan, belum sempat saya menunjukkan hasil kerjaan yang sudah dikerjakan, Pak Is kedatangan tamu dan Pak Is minta ijin meninggalkan saya dan mas rado sebantar lalu masuk keruangan sebelah, tidak lama Pak Is masuk lagi keruangan saya dan mas rado menunggu kemudian berbicara “sebelumnya maaf mas dan mbak bukan saya tidak menghargai kedatangan mas dan mbak, tapi ada yang harus saya kerjakan terlebih dahulu saat ini, hari senin datang kembali saja ya mas dan mbak? Supaya langsung bertemu juga dengan pak lurah”. Dengan kedipan mata beberapa kali yang menyadarkan saya, saya baru bisa berkalimat “Ooo.. begitu, baik pak, kalau begitu hari senin pagi, kami akan kembali untuk bisa bertemu dengan pak lurahnya ya pak, terimakasih maaf ya pak sudah mengganggu pekerjaanya”. Saya kembali menggendong tas dan beranjak berdiri, begitupun dengan mas rado, saya melihat perasaan tidak enak dari mata Pak Is karena harus bertindak seolah-olah acuh terhadap kami, tapi saya dan mas rado mencoba mengerti dengan segala kesibukan di kantor desa tersebut, dan (mungkin memang) menjadi kesalahan saya karena datang saat sudah siang.

Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini adalah sabar. Iya, sabar dalam tiap-tiap perjalanan yang kita jalanin, karena dalam setiap perjalanan yang kita jalanin itu selalu ada proses dan proses inilah yang harus kita lalui, dan selalu ingat setiap orang memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing, jadi yaa sabar aja, senin insyaallah ada kelanjutan ceritanya kok. hehe